• Catatan Rifqi Azis
  • Catatan Rifqi Azis
  • Catatan Rifqi Azis
  • Catatan Rifqi Azis
  • Catatan Rifqi Azis
  • Catatan Rifqi Azis
  • Catatan Rifqi Azis
Showing posts with label Kajian Ilmiah. Show all posts
Showing posts with label Kajian Ilmiah. Show all posts

Wahyu Wijayanti : PERAN MEDIA DAN SUMBER BELAJAR BAGI PERKEMBANGAN BAHASA ANAK USIA DINI

Wednesday, January 4, 2017 Label: ,
Wahyu Wijayanti
ABSTRAK
Anak usia dini adalah anugerah dari Allah SWT yang sangat istimewa.Mereka adalahindividu yang sedang menjalani suatuproses perkembangan dengan pesat dan sangat fundamental bagi kehidupanselanjutnya. Mereka memiliki dunia dankarakteristik yang jauh berbedadari orang dewasa. Mereka selalu penuhrasa ingin tahu, dinamis, aktif terhadapapa yang dilihat dandidengarnya, seolah-olah tak pernah mengenal istilah lelah dalam belajar.
Anak usia dini juga belajar menggunakan bahasa bahkan berkomunikasi. Melalui berbahasa  anak akan dapat mengembangkan kemampuan bergaul(social skill) dengan orang lain.
Anakdapatmengekspresikanpikirannyamenggunakan bahasa, sehingga oranglain dapat menangkap apa yangdipikirkan oleh anak. Sebagai alat komunikasi, bahasa sangat membantuanak dalam membangun hubungan.Oleh karena itutidaklah mengherankan bahwa bahasa dianggap sebagai salahsatu indikator kesuksesan seoranganak. Bahkan sering kita dengarungkapan tentang anak yang dianggapbanyak berbicara, merupakan cerminan  anak
yang cerdas.
Kata kunci : Perkembangan bahasa anak usia dini, media, sumber belajar

Read more

EFEKTIVITAS PENDEKATAN COGNITIVE BEHAVIOR MODIFICATION UNTUK MENINGKATKAN MUTU KEGIATAN BELAJAR SISWA

Label: ,
Suko Budiono
ABSTRAK
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui keefektifan pendekatan  cognitive behavior  modivication  (CBM)  dengan teknik restrukturisasi kognitif  untuk  meningkatkan mutu
belajar siswa. Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian  The Non-Equivalent Control Group. Bentuk desain yang digunakan  pretest-postest control group design.  Subjek penelitian adalah siswa SMP 2 Jenggawah Jember  yang mengalami masalah rendahnya mutu belajar yang terdiri dari 13 orang pada kelompok eksperimen dan 13 orang pada kelompok kontrol. Penjaringan subjek penelitian  menggunakan Alat Ungkap Masalah PTSDL Format-3   (Prayitno dkk, 1997).  Analisis data menggunakan statistik non parametrik yaitu  uji  Wilcoxom Signed Ranks Test  dan Kolmogorov smirnov 2 independent sampels.
Temuan penelitian  ini  menunjukkan bahwa pendekatan  cognitive behavior modivication  (CBM)  dengan teknik restrukturisasi kognitif  efektif untuk meningkatkan mutu kegiatan belajar siswa SMP, dibuktikan dengan  perbedaan mutu kegiatan belajar antara siswa yang diberi  perlakuan  pendekatan  cognitive behavior modivication  (CBM) dengan siswa yang diberi counseling as usual.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut disampaikan saran-saran: (1) terbukti pendekatan pendekatan  cognitive behavior modivication  (CBM)  dengan teknik restrukturisasi kognitif efektif untuk meningkatkan mutu kegiatan belajar siswa SMP maka guru BK/konselor sekolah dapat menggunakan pendekatan cognitive behavior modivication (CBM)  dengan teknik restrukturisasi kognitif  untuk meningkatkan mutu kegiatan belajar siswa, (2) pendekatan  cognitive behavior modivication  (CBM) sangat menekankan pada pengubahan dialog internal konseli. Oleh karena itu diperlukan keterampilan konselor dalam melaksanakan konseling dengan pendekatan modifikasi kognitif perilaku. Untuk itu
guru BK/konselor perlu meningkatkan keterampilan dalam konseling sehingga penerapannya dapat dilakukan dengan mudah dan lebih efektif, dan (3) penelitian ini hanya menggunakan subjek penelitian siswa SMP. Untuk mengembangkan, memperkaya dan memperluas teori tentang mutu kegiatan belajar, penelitian lanjutan dapat menggunakan setting  yang berbeda, baik dari  setting  demografi (usia, wilayah), jenis kelamin, status sosial maupun pendidikan.
Kata kunci :  Mutu kegiatan belajar siswa, pendekatan cognitive behavior modivication (CBM).


Read more

Mudafiatun Isriyah : PENGEMBANGAN BUKU CERITA BERGAMBAR DENGAN METODE PENDEKATAN SAINTIFIK BERBASIS BCCT PADA ANAK USIA DINI

Label: ,
Mudafiatun Isriyah
PG PAUD IKIP PGRI Jember
Email: ieiezcla@gmail.com
Iqbal Limatahu
FKIP Pendidikan Fisika Universitas Khairun Ternate
Email: ilimatahu@gmail.com
ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian pengembangan buku cerita bergambar dengan metode  pendekatan saintifik berbasis BCCT pada anak usia dini. Penelitian ini termasuk penelitian
pengembangan (R&D) yaitu mengembangkan buku cerita bergambar. Pengembangan  media pembelajaran dilakukan mengikuti model 4-D menurut Thiagarajan yang terdiri dari
4 tahap, yaitu: (1) pendefinisian  (define);  (2) perancangan  (design); (3)  pengembangan (develop);  dan (4) penyebarluasan (disseminate).  Dalam mengembangkan buku cerita  bergambar yang akan digunakan untuk bahan pembelajaran ada beberapa tahap. Yaitu tahap pengembangan buku cerita bergambar, uji ahli, dan uji lapagan pada beberapa Taman Kanak-kanak yang ada di kota Jember dengan pendekatan  saintifik. Saat mengimplementasi-kan tim peneliti memantau proses pembelajaran dan setelah selesai dilakukan diskusi dengan guru pengajar untuk merefleksi proses pembelajaran yang telah dilaksanakan untuk perbaikan selanjutnya.Tahap implementasi menggunakan rancangan penelitian one group pretest posttest design. Metode pengumpulan data digunakan metode
observasi, tes, dan angket. Teknik analisis data menggunakan statistik deskriptif dalam bentuk tabel, presentase, dan grafik. Dan hasil pengolahan data dibahas secara naratif  dengan membandingkan hasil yang diperoleh dengan teori.  pengembangan buku cerita bergambar dengan metode pendekatan saintifik berbasis BCCT pada anak usia dini (AUD).
Kata kunci:  Pengembangan buku cerita bergambar, metode pendekatan saintifik berbasis BCCT AUD

Read more

Syamsul Hidayat : PERANAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS BUDAYA LOKAL TERHADAP PENINGKATAN PELAKSANAAN KONSELING AUD

Label: ,
Syamsul Hidayat
IKIP PGRI Jember
ABSTRAK
Kajian penulisan karya tulis ilimiah ini bertujuan untuk mengetahui peranan media  pembelajaran berbasis budaya lokal terhadap peningkatan pelaksanaan konseling AUD.
Beberapa kajia teori dan pembahasan tersebut menjelaskan bahwa ada sebuah peranan penting dalam pemanfaatan media pembelajaran berbasis budaya lokal terhadap pelaksanaan konseling AUD. Diantaranya adalah Pelaksanaan konseling AUD membawa budaya lokal yang selama ini tidak selalu mendapat tempat dalam kurikulum sekolah ke dalam proses pembelajaran beragam mata pelajaran/tema di sekolah. Dalam pembelajaran berbasis budaya, lingkungan belajar akan berubah menjadi lingkungan yang menyenangkan bagi guru maupun siswa, dan yang memungkinkan guru dan siswa berpartisipasi aktif  berdasarkan budaya yang sudah mereka kenal sehingga dapat diperoleh hasil konseling yang optimal pada Anak Usia Dini (AUD).
Kata kunci : Media Pembelajaran, Konseling AUD.

Read more

SELASI PRIATINGSIH : MENUMBUHKAN NILAI BUDI PEKERTI ANAK SEJAK USIA DINI YANG BERBASIS KEARIFAN LOKAL PADA MASYARAKAT DESA KOKAPAN PANTI KABUPATEN JEMBER

Label: ,
SELASI PRIATINGSIH
IKIP PGRI JEMBER
slasi_javagirl@yahoo.co.id
ABSTRAK
Kearifan  lokal pada anak sejak usia dini adalah nilai-nilai sikap yang mendasari perilaku anak. Pendidikan nilai yang secara kurikuler terintegrasi dalam bidang budi pekerti.
Pengembangan sosial emosional yaitu rasa tanggung jawab terhadap diri dan orang lain.
Dimana berusaha menyelesaikan dan mengerjakan tugas pilihannya sendiri tanpa bantuan orang dewasa, Menerima tanggung jawab pribadi dengan baik, menghormati dan merawat lingkungan. Sebagai contoh : Membantu ibu dengan cara membereskan tempat tidur, menyapu, cuci piring, mematuhi peraturan di dalam kelas, membantu teman yang
kesusahan, bermain dan saling berbagi bersama teman.    Pentingnya pendidikan karakter pada usia dini yang berbasis pada kearifan lokal dapat menumbuhkembangkan anak
menjadi cerdas baik secara intelektual, spiritual maupun emosional. Sehingga anak menjadi  insan yan tidak hanya pandai namun berkarakter. Berdasarkan pembahasan ini maka dapat disimpulkan bahwa kearifan lokal terutama nilai budi pekerti dapat ditumbuhkan sejak usia dini pada diri anak, melalui pendidikan dari keluarga dan lingkungan seiktar baik secara langsung dipraktekkan dalam kegiatan sehari -hari maupun pelajaran disekolah.. Sehingga anak tidak hanya mendapatkan pelajaran secara tertulis saja namun beserta pengaplikasiannya dalam kegiatan sehari – hari.
Kata kunci : Kearifan lokal, Pendidikan nilai budi pekerti, Anak usia dini.

Read more

Rosika Novia Megaswarie : PENGEMBANGAN PROGRAM INTERVENSI MELALUI TERAPI PERMAINAN UNTUK ANAK DENGAN KETERLAMBATAN BERBICARA

Label: ,
Rosika Novia Megaswarie
IKIP PGRI Jember
ABSTRAK
Terapi permainan merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk mengembangkan  keterampilan berbicara pada anak. Dalam penelitian ini, terapi permainan diterapkan untuk anak dengan keterlambatan berbicara.  Dari hasil studi lapangan, ditemukan bahwa  masih banyak anak-anak yang mengalami keterlambatan berbicara dan belum mendapatkan layanan pendidikan untuk mengembangkan keterampilan berbicara tersebut dengan cara yang menyenangkan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh penemuan hasil studi lapangan tersebut. Tujuannya adalah untuk mengembangkan program intervensi
melalui terapi permainan untuk menangani permasalahan pada anak dengan keterlambatan berbicara. Subyek dari penelitian ini adalah anak dengan keterlambatan  berbicara usia 3-4 tahun. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif yang hasilnya berupa data kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa  keterampilan berbicara anak dapat berkembang setelah diberikan intervensi melalui terapi permainan. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pedoman untuk mengembangkan program intervensi dengan terapi permainan lanjutan untuk anak yang mengalami
keterlambatan perkembangan berbicara.
Kata kunci : Intervensi, terapi permainan, kerterlambatan berbicara.

Read more

Renalatama Kismawiyati : ANALISIS PERSEPSI GURU KELAS TERHADAP IMPLEMENTASI KELAS KHUSUS BAGI PESERTA DIDIK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI SD NEGERI BANJARSENGON 02 KABUPATEN JEMBER

Label: ,
Renalatama Kismawiyati
Prodi. Pendidikan Luar Biasa (PLB), FIP, IKIP PGRI Jember
renalatama@gmail.com
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi guru kelas    terhadap implementasi penyelenggaraan kelas khusus  bagi PDBK  di SDN Banjarsengon 02 Kabupaten Jember.
Desain penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif dengan teknik analisis data menggunakan teknik analisis data interaktif. Teknik analisis
interaktif dilakukan dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan Subjek penelitian adalah guru kelas  di SDN Banjarsengon 02 Kabupaten
Jember. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Hasil temuan penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat  persepsi negatif pada sembilan komponen dan persepsi positif pada tiga komponen implementasi kelas khusus bagi PDBK di sekolah inklusif. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi GPK terhadap penyelenggaraan kelas khusus  bagi PDBK di sekolah inklusif adalah  kurang adanya pemahaman jenis PDBK, kurangnya komunikasi antara guru kelas dan GPK, dan kurangnya pengetahuan serta sumber informasi tentang penyelenggaraan kelas khusus bagi
PDBK.
Kata  kunci:  Persepsi, guru kelas, kelas khusus, peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK).

Read more

Fitriyatus Sholihah : MENINGKATKAN PERKEMBANGAN ANAK MELALUI PERMAINAN TRADISIONAL

Label: ,
Fitriyatus Sholihah
fitriatus93@gmail.com
ABSTRAK
Masa peka adalah masa terjadinya kematangan fungsi fisik dan psikis yang siap merespon  stimulasi yang diberikan oleh lingkungan. Masa ini juga merupakan masa peletak dasar
untuk mengembangkan  kemampuan kognitif, motorik, bahasa, dan sosio-emosional.  Masa TK merupakan masa kanak-kanak awal. Pola perilaku sosial yang terlihat pada masa  kanak-kanak awal, seperti yang diungkap oleh Hurlock (1998:252) yaitu: kerjasama, persaingan, kemurahan hati, hasrat akan penerimaan sosial, simpati, empat, ketergantungan, sikap ramah, sikap tidak mementingkan diri sendiri, meniru, perilaku kelekatan.Permainan tradisonal merupakan simbolisasi dari pengetahuan yang turun temuru n dan mempunyai bermacam-macam fungsi atau pesan di baliknya, di mana pada prinsipnya permainan anak tetap merupakan permainan anak Permaianan digunakan sebagai istilah luas yang mencakup jangkauan kegiatan dan prilaku yang luas serta mungkin bertindak sebagai
ragam tujuan yang sesuai dengan usia anak.  Menurut Pellegrini dalam Naville Bennet bahwa permainan didefinisikan menurut tiga matra sebagai berikut: (1) Permainan sebagai kecendrungan, (2) Permainan sebagai konteks, dan (3) Permainan sebagai prilaku  yang dapat diamati.  Permainan tradisional ini bisa dikategorikan dalam tiga golongan, yaitu : permainan untuk bermain (rekreatif), permainan untuk bertanding (kompetitif) dan permainan yang bersifat edukatif.
Kata kunci : Perkembangan Anak, Permainan Tradisional

Download Prosiding Jambore Konseling Nasional 2016

Read more

Suriata Nishahoky : ANALISIS NILAI-NILAI PADA UPACARA KARIA DAN KONTRIBUSINYA DALAM LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING

Label: ,
Suriata Nishahoky
Universitas Borneo Kalimantan Utara

Budaya atau yang dikenal dengan kata kebudayaan berasal dari bahasa Sansekertta yaitu kata  buddhayah.Kata  buddhayah  adalah bentuk jamak dari kata buddhi yang berarti sebagai hal yang berkaitan dengan budi atau akal manusia.
Sedangkan dalam bahasa Inggris,  kebudayaan disebut dengan  culture, kata  culture sendiri berasal dari kata latincolere  yang berarti pemeliharaan, mengelola dan penggarapan tanah menjadi tanah pertanian (Mulyadi, 1999: 20).
Salah satu tradisi yang diwariskan yaitu upacara karia yang berasal dari Propinsi Sulawesi Tenggara.  Budaya karia sendiri merupakan tradisi pingitan bagi anak perempuan yang berasal dari etnis Muna. Dalam adat suku Muna, setiap anak
perempuan yang akan memasuki usia remaja diwajibkan untuk menjalani tradisi pingitan (Karia) selama empat hari empat malam, dua hari dua malam, atau sehari  semalam tergantung kesepakatan antara penyelenggara karia dengan tetua adat (pomantoto), atau disesuaikan dengan tingkat sosial atau kasta dalam masyarakat Muna.
Menjadi tanggung jawab  bagi setiap orang tua di Muna untuk mendidik anak perempuan mereka dengan pengetahuan dasar sebelum memasuki masa dewasa dan kehidupan berumah tangga.Seperti dalam sebuah ungkapan filosofi orang tua Muna kadekiho polambu, ane paeho omandehao kofatawalahae  ghabu‖ yang berarti jangan engkau menikah, sebelum engkau memahami empat penjuru/sisi dapur.Ungkapan ini memberikan penegasan betapa pentingnya memberikan pengetahuan dasar sebagai bekal anak sebelum menjadi perempuan dewasa yang siap berumah tangga.
Bimbingan yang diberikan dalam budaya karia memiliki tujuan yang sejalan dengan bimbingan dan konseling yaitu agar peserta didik dapat memahami diri termasuk potensi dan tugas perkembangannya, mampu memahami lingkungan, mengarahkan diri dan menyesuaikan diri terhadap norma yang berlaku dalam lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat.
Secara umum sasaran dari bimbingan dan konseling adalah mengembangkan apa yang terdapat pada diri tiap-tiap individu secara optimal agar setiap individu bisa berguna bagi dirinya sendiri, lingkungannya, dan masyarakat pada umumnya. Secara lebih khusus sasaran pembinaan pribadi melalui layanan bimbingan dan konseling mencakup tahapan-tahapan pengembangan kemampuan-kemampuan: (1) pengungkapan, pengenalan, dan penerimaan diri, (2)  pengenalan lingkungan, (3)
pengambilan keputusan, (4) pengarahan diri, dan (5) perwujudan diri (Sukardi dan Kusmawati, 2008: 9).
Upacara karia sebagai salah satu wujud jati diri budaya masyarakat Muna memiliki peran penting dan relevan dengan upaya  pembentukan karakter. Nilai-nilai upacara karia mengandung proses bimbingan bagi kaum perempuan dalam hal pembinaan watak, karakter, dan pemahaman diri. Secara umum tujuan pelaksanaan upacarakaria  sejalan dengan sasaran bimbingan dan konseling yaitu untuk  mengenal,
memahami dan mengembangkan diri tiap individu secara optimal sehingga mampu bermanfaat bagi dirinya sendiri, masyarakat, dan lingkungannya.Selain itu, saat ini masih kurang penelitian yang mengkaji tentang kebudayaan yang dikaitkan dengan  bimbingan dan konseling di daerah Muna.Penelitian ini menjadi cukup penting untuk memperkenalkan budaya serta membantu mengembangkan layanan bimbingan dan konseling yang berbasis budaya.Untuk itu, sangat penting melakukan  analisis  nilai-nilai yang terdapat pada upacarakaria  yang dijalankan oleh masyarakat Muna dan selanjutnya mengkaji lebih mendalam kontribusinilai-nilai upacara karia tersebut  dalam
layanan bimbingan dan konseling

Read more

Eky Prasetya Pertiwi : PERAN IBU BEKERJA DALAM UPAYA MENDIDIK DAN MENANAMKAN KEARIFAN LOKAL PADA ANAK USIA DINI

Label: ,
Eky Prasetya Pertiwi
Prodi PAUD IKIP PGRI Jember
ABSTRAK
Tujuan yang ingin dicapai dalam sajian ini adalah: (1) mendiskripsikan peran ganda ibu, yakni peran ibu bekerja dan peran dalam mendidik anak; (2) mendiskripsikan tentang
makna kearifan local pada anak usia dini (3) mendiskripsikan tentang bagaimana  upaya seorang ibu bekerja dalamm menanamkan kearifan local pada anak usia dini. (4)
Mendeskripsikan dampak positif dan negative dari kondisi ibu bekerja terhadap perkembangan anak.  Pembahasan ini berkaitan dengan : (1) Peran ganda ibu dalam Bekerja dan  mendidik anak, (2) Menanamkan kearifan local pada anak usia dini. Kearifan local yang dimaksud adalah mengenai nilai – nilai budaya bangsa yang sudah dimiliki sejak lama. Nilai nilai tersebut menyangkut nilai -  nilai yang ada dalam falsafah Pancasila. Sikap saling menghargai, gotong royong, mematuhi norma norma social masyarakat dan nilai kesopanan yang sudah mulai luntur,  Berdasarkan pembahasan ini maka dapat disimpulkan bahwa Pentingnya peran ibu dalam hal mendidik dan menanamkan kearifan local sejak usia dini. Penanaman kearifan local pada usia dini bisa dilakukan oleh ibu bekerja dengan cara pengawasan dan komunikasi yang intens terhadap anak. Sehingga nilai-nilai budaya yang sudah ada sejak dulu tidak begitu saja dengan mudah dihilangkan oleh budaya-budaya baru yang tidak sesuai dengan falsafah bangsa.
Kata Kunci: Peran Ibu, Kearifan Lokal, Anak Usia Dini.

Read more

Nurhafit Kurniawan : PENDEKATAN KEDWIBAHASAAN SEJAK ANAK USIA DINI: BAHASA DAERAH DAN BAHASA INDONESIA

Label: ,
Nurhafit Kurniawan
Prodi PAUD IKIP PGRI Jember
ABSTRAK
Penguatan bahasa Indonesia di wilayah pedesaan, yang sebagian besar berpenutur bahasa daerah, harus diwaspadai karena dapat mengancam keberadaan bahasa daerah sebagai
pucuk-pucuk kebudayaan nasional. Solusi yang dapat ditawarkan, agar kedua bahasa  itu dapat berkembang selaras, adalah pendekatan kedwibahasaan. Pendekatan kedwibahasaan
dapat dijadikan kebijakan kebahasaan sejak jenjang pendidikan prasekolah sampai SD Kelas III di wilayah dwibahasawan. Kompetensi utama, misalnya, pengenalan huruf dan angka, dapat disampaikan dalam bahasa Indonesia, sementara kompetensi pendukung dapat diantarkan dalam bahasa daerah. Tujuan pendekatan kedwibahasaan sejak anak usia dini
tidak hanya untuk menghasilkan penutur yang cerdas dalam bidang ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu menghargai perbedaan, penguatan jati diri bahasa Indonesia, dan kebertahanan bahasa daerah. Bukti empirik menunjukkan bahwa anak usia dini memiliki kognisi kebahasaan dan perangkat alat ucap yang sedang bertumbuh dan berkembang, sehingga mereka mudah dan cepat menguasai dua bahasa. Pendekatan kedwibahasaan merupakan salah satu perangkat penguat karakter kebangsaan karena berperan menciptakankebersamaan dalam keberagaman Indonesia.
Kata kunci : Kedwibahasaan, bahasa ibu, anak usia dini.

Read more

Nike NormaEpriliyana : SINERGITAS PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWADALAM MENUMBUHKAN JIWA NASIONALISME UNTUK MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN

Label: ,
Nike NormaEpriliyana
Akademi Akuntansi PGRI Jember
nike050485@gmail.com
ABSTRAK
Artikel ini bertujuan untuk memaparkan sinergitas Program Kreativitas Mahasiswa dalam  upaya menumbuhkan jiwa nasionalisme pada generasi muda dalam menghadapi
Masyarakat Ekonomi ASEAN. Program Kreativitas Mahasiswa yang dimaksud adalah Program yang digagas oleh Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Dikti. Pendekatan penulisan dilakukan dengan deskriptif kualitatif yang mengambil referensi dari buku, artikel, jurnal ilmiah dan sumber on line. Program Kreativitas Mahasiswa memiliki peranan untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme dengan cara memanfaatkan dan menggunakan hasil kreativitas mahasiswa tersebut dalam kegiatan kampus dan memberikan wadah kreativitas mahasiswa dengan membangun pusat pameran maupun usaha yang khusus menjual hasil karya kreativitas mahasiswa. Selain itu, hasil kreativitas mahasiswa juga perlu dilindungi dengan HaKI. Keberadaan MEA yang selama ini digadang  –  gadang sebagai ancaman terhadap produk dalam negeri, tidak akan terwujud, selama masyarakat dalam negeri memiliki jiwa nasionalisme dan bangga menggunakan produk sendiri. Semua berawal dari generasi muda sebagai tonggak perubahan dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Kata  kunci  :  Program Kreativitas Mahasiswa, Jiwa Nasionalisme, Masyarakat Ekonomi ASEAN

Read more

Noviyanti Kartika Dewi : IDENTIFIKASI NILAI-NILAI LUHUR DI DALAM TOKOH PUNAKAWAN DALAM PELAKSANAAN BIMBINGAN DAN KONSELING ANAK USIA DINI

Label: ,
Noviyanti Kartika Dewi
Program Studi Bimbingan dan Konseling IKIP PGRI MADIUN
Noviyantibk411@gmail.com
ABSTRAK
Identitas suatu bangsa tercermin dari beragam corak budayanya.  Wayang adalah seni pertunjukkan  asli Indonesia yang berkembang pesat di Pulau Jawa. Tokoh-tokoh dalam
cerita pewayangan sangat banyak. Namun disini penulis akan memfokuskan pada 4 tokoh wayang  yang dikenal dengan sebutan ―Punakawan‖. Punakawan ini terdiri dari Semar,
Gareng, Petruk dan Bagong. Keempat tokoh Punakawan memiliki nilai yang adiluhung, monumental dan amat berharga, bukan saja karena kehebatan cerita, keindahan
penyampaian, ketegasan  pola karakter, melainkan juga nilai filosofi dan ajaran-ajarannya yang tidak ternilai dan masih saja relevan hingga saat ini. Ketika dikaji lebih dalam lagi
keempat tokoh punakawan ini karakter dan nilai-nilai ajarannya sama dengan kompetensi pribadi seorang konselor professional.  Keempat tokoh tersebut adalah 1)  Semar memiliki watak yang jujur, sabar, berbelas kasih dan mencintai sesama, 2)  Gareng memiliki watak berhati-hati dalam berprilaku dan kebulatan tekat, 3) Petruk memiliki karakter pantang menyerah dan berfikir sebelum bertindak (tidak grusa grusu), 4) Bagong memiliki karakter sederhana, sabar, dan tidak terlalu kagum pada kehidupan di dunia. Keempat tokoh tersebut memiliki nilai karakter relefan dengan peran konselor dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling.
Kata kunci: Wayang, punakawan, karakter.

Read more

Nostalgianti Citra Prystiananta : PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS BERBASIS KEARIFAN LOKAL DI KABUPATEN BONDOWOSO

Label: ,
Nostalgianti Citra Prystiananta
IKIP PGRI Jember 
Nostalgianti_Citra@yahoo.com
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menciptakan suatu model pembelajaran Bahasa Inggris yang berbasis kearifan lokal di sekolah dasar. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif
kualitatif yang bertujuan untuk menciptakan model konseptual tentang pembelajaran Bahasa Inggris berbasis kearifan lokal. Penelitian ini menggunakan populasi sekolah dasar yang ada di Kabupaten Bondowoso, dan pemilihan sampel dilakukan dengan tehnik  Multi-Stage Sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner, analisis dokumen dan dilengkapi dengan wawancara. Data yang dihasilkan merupakan model konseptual pembelajaran Bahasa Inggris yang berisi tentang standar kompetensi Bahasa Inggris
sekolah dasar, kompetensi dasar, tema/materi yang harus diajarkan untuk mencapaikompetensi, pendekatan, metode/strategi, dan assessmen yang digunakan untuk menilai kompetensi siswa dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Model konseptual ini akan menjadidasar pengembangkan modul dan perangkat pembelajaran Bahasa Inggris disekolah dasar.
Kata kunci: Model pembelajaran Bahasa Inggris, Kearifan Lokal.

Read more

Nova Eko Hidayanto : PERAN GURU PAUD DALAM PENANAMAN NASIONALISME

Label: ,
Nova Eko Hidayanto
Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP PGRI Jember
Abdianatocamilan@gmail.com
ABSTRAK
Bahwa pendidikan memegang peranan sangat penting dalam mendidik dan mengajarkan nilai-  nilai budaya lokal bangsa Indonesia. Oleh karena itu, guru berfungsi sebagai peletak
dasar dalam menanamkan semangat nasionalisme atau cinta tanah air. Guru juga sebagai pemimpin terhadap anak didiknya yang bertanggung jawab dalam mengajarkan nasionalisme itu sendiri. Semangat nasionalisme tentunya lebih baik diajarkan sejak usia dini pada sekolah-  sekolah PAUD. Semangat nasionalisme tentunya juga sejalan dengan ajaran agama khususnya agama Islam, sehingga dalam mengajarkan atau menanamkan nasionalisme juga mengajarkan ketaatan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, mengajarkan moral atau tingkah laku, mengajarkan kebersihan lingkungan, mengajarkan saling menghargai, menolong, kejujuran dan menghargai antar sesama manusia dan mengajarkan memelihara alam ini dari kerusakan lingkungan, dan sebagainya. Tentunya dalam penanaman semangat nasionalisme akan berdampak positif terhadap perubahan tingkah laku baik bagi pendidik dan khususnya terutama bagi anak didik yang diajarnya.
Kata kunci  : Peran Guru PAUD, Penanaman, Nasionalisme.

Read more

Suharni : LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENGEMBANGKAN KARAKTER ANAK USIA DINI MELALUI MEDIA TARI KANG POTRO

Label: ,
Suharni
IKIP PGRI MADIUN
ikisurelku@gmail.com
ABSTRAK
Masa Usia dini merupakan masa emas pertumbuhan dan perkembangan sebab perkembangan berbagai aspek psiko-sosio biologi yang terjadi pada masa ini akan menjadi
dasar perkembangan pada masa selanjutnya. Pada masa ini perkembangan jaringan otak anak mengalami  peningkatan yang sangat pesat, 80% perkembangan otak anak terdapat
pada masa usia dini. Stimulasi yang didapat anak pada masa ini akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak selanjutnya. Secara empirik, kenyataan yang telah
kita ketahui bersama bahwa sekarang ini nilai-nilai kesopanan, sikap kegotongroyongan, rasa kebersamaan mulai pudar dan bahkan hampir hilang dari jiwa anak -anak. Pendidik
harus mampu memberikan stimulasi yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan dengan cara memberikan layanan bimbingan dan konseling untuk mengatasi permasalahan yang ada di lembaga PAUD. Memberikan pendidikan karakter pada anak usia dini adalah langkah yang tepat untuk menumbuhkan rasa nasionalisme bangga akan budaya bangsa.
Melalui pembelajaran tari Kang  Potro berbasis kearifan lokal yang mempunyai peranan dalam melestarikan budaya bangsa, cerita yang terkandung dalam gerak tari dapat dijadikan sebagai keteladanan dalam pendidikan karakter anak usia dini sehingga rasa nasionalisme kebangsaan dapat tumbuh  pada benak anak. Dengan pembiasaan melakukan sesuatu yang baik, yang menjadikan anak berkembang menjadi pribadi yang utuh, mencintai dan menghormati tuhan, hidup dengan sesama, mengembangkan lingkungan,memajukan diri sendiri dan menghormati bangsa.
Kata kunci : Bimbingan dan Konseling, Paud, Pendidikan Karakter, Kang Potro

Read more

Ida Karismatika : PENTINGNYA MEMBANGUN RESILIENSI PADA ANAK MELALUI KONSELING BERBASIS KEKUATAN

Label: ,
Ida Karismatika
IKIP PGRI JEMBER
idakarisma.tika@yahoo.com
ABSTRAK
Kajian tentang resiliensi pada anak merupakan hal yang masih menjadi perhatian peneliti  dan praktisi anak-anak. Resiliensi merupakan kemampuan untuk lekas pulih dari kondisi
keterpurukan akibat masalah yang dihadapi, sehingga anak cepat menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi pada diri, keluarga dan lingkungan disekitarnya. Dalam kajian
berikut, dijabarkan mengenai teori dan penerapan konseling berbasis kekuatan, sebagai alternatif pilihan yang sesuai dalam upaya membangun resiliensi pada anak,yang  berfungsi
sebagai faktor protektif bag ianak agar terhindar dari faktor risiko yang berbahaya bagi kesehatan mental pada khususnya.
Kata kunci: Resiliensi pada anak; konseling berbasis kekuatan.

Read more

Mukhtar Zaini Dahlan : DEMOKRASI BERAGAMA : MERAJUT KEDEWASAAN BERAGAMA DAN BERNEGARA

Label: ,
Mukhtar Zaini Dahlan
Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP PGRI Jember
mukhtarzaini@gmail.com
ABSTRAK
Radikalisme memang merupakan fenomena agama-agama. Berbagai demonstrasi, apakah itu bermuatan politik, social, ekonomi dan budaya mewarnai kehidupan masyarakat. Ada
yang dipicu oleh persoalan religio-politik, seperti pilkada, pelaksanaan syariah di dalam bernegara, ada yang difasilitasi oleh persoalan religio-social seperti merebaknya interaksi
antar umat beragama, pluralisme dan hubungan lintas agama, ada yang disebabkan oleh persoalan religio-ekonomi seperti kapitalisme yang semakin perkasa, dan persoalan religio-budaya seperti penerapan Islam secara kaffah, merebaknya  bidh’ah  dalam berbagai variasinya dan tradisi kemaksiatan yang semakin cenderung menguat. Masalah-masalah ini
cenderung direspon dengan tindakan kekerasan, yang dalam banyak hal justru kontra-produktif. Salah satu implikasinya adalah kekerasan agama yang dikonstruk sebagai radikalisme menjadi variabel dominant dalam berbagai tindakan kekerasan yang mengatasnamakan agama. Agama yang semula bermisi kedamaian tereduksi dengan tindakan-tindakan yang bertentangan dengannya. Keyakinan akan kebenaran agama sendiriharus disertai dengan penghargaan terhadap keyakinan agama lain. Karena itu, pemahaman
agama sangat ditumbuhkan untuk meredam konflik yang kerap terjadi dalam masyarakat. Menumbuhkan nilai-nilai kebersamaan sebagaimana yang diajarkan agama harus dimulai
dari diri sendiri, keluarga, dan masyarakat untuk meredam benih benih konflik sosial.
Kata kunci: Demokrasi, Beragama, Kerukunan.

Download  Prosiding Jambore Konseling Nasional 2016

Read more

Pudhak Prasetiyorini : PEMBANGUNAN PEREKONOMIAN TRADISIONAL MASYARAKAT PEDESAAN BERWAWASAN LINGKUNGAN

Label: ,
Pudhak Prasetiyorini
Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP PGRI Jember
Pudhakp@yahoo.com
ABSTRAK
Pembangunan perekonomian pedesaan dipandang sebagai suatu proses alamiah yang  bertumpu pada potensi yang dimiliki dan kemampuan masyarakat desa itu sendiri.
Pendekatan ini meminimalkan campur tangan dari luar sehingga perubahan yang diharapkan berlangsung  dalam rentang waktu yang panjang .Pembangunan perekonomian
tradisional masyarakat pedesaan berwawasan lingkungan adalah pendayagunaan sumber daya alam sebagai pokok kemakmuran rakyat dilakukan secara terencana, bertanggungjawab, dan sesuai daya dukungnya dengan mengutamakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat serta memperhatikan kelestarian fungsi dan keseimbangan lingkungan  hidup bagi pembangunan berkelanjutan  (sustainable development).Konsep pembangunan ini bertujuan untuk membangun kualitas SDM (Sumber Da ya Manusia) yang mampu menyelaraskan tanggung jawab moral dengan strategi pembangunan berwawasan  lingkungan.
Kata kunci : Pembangunan Perekonomian, Berwawasan Lingkungan.

Read more

Indah Kharismawati : PEMANFAATAN PERMAINAN TELEPON KALENG SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN SAINS ANAK USIA DINI

Label: ,
Indah Kharismawati
IKIP PGRI Jember
indah.kharismawati@yahoo.com
ABSTRAK
Usia dini adalah fase fundamental bagi perkembangan individu yang disebut sebagai golden age  atau usia emas, Pengalaman yang dihadapi anak mungkin akan membentuk
pengalaman yang akan dibawanya seumur hidup. Implikasi pada pendidikan anak usia dini adalah diperlukan langkah yang tepat untuk membekalinya, sebagai upaya yang perlu
diambil adalah melalui pembelajaran sains dengan mengenalkan lingkungan alam sekitar sebagai  sumber belajar pada Anak Usia Dini. Belajar dengan bersumber pada lingkungan alam sekitar memberikan pengalaman nyata pada anak. Dengan melihat dan mengalami secara langsung baik interaksi dengan mahluk hidup atau benda mati, anak diharapkan mampu belajar  menghargai lingkungan dengan baik. Dalam perkembangannya proses pembelajaran Sains tentunya didukung oleh adanya media pembelajaran. Melihat kenyataan bahwa kurang efektifnya media pembelajaran yang biasa digunakan, maka diperlukan suatu inovasi atau perubahan. Oleh karena itu, seyogyanya media pembelajaran pun dapat disesuaikan dengan masa Anak Usia Dini. Permaianan telepon kaleng sebagai media pembelajaran sains diharapkan mampu meningkatkan pemahaman sains untuk anak Usia Dini, yang mana permainan telepon kaleng mengandung nilai kearifan lokal yang masih kental sebagai media pembelajaran sains yang tak tergerus oleh zaman. Dimana media yang
dimaksudkan disini adalah alat pembelajaran yang dibuat dari dua buah kaleng yang dibentuk sedemikian rupa kemudian  kedua kaleng tersebut dihubungkan dengan seutas benang berbentuk seperti sebuah alat komunikasi dua arah. Mulai dari proses pembuatan sampai pada penggunaannya yang memanfaatkan prinsip perambatan bunyi dalam medium.
Kata kunci : Telepon kaleng, Pembelajaran sains, Media pembelajaran, Anak usia (4-6).

Read more
 
Konselor Profesional © 2010 | Designed by Blogger Hacks | Blogger Template by ColorizeTemplates | Brought to you by Cyber Template